Cerita Rakyat Lampung


Sebagai Negara kepulauan Indonesia memiliki rama suku yang luar biasa. Hal ini membentuk budaya dan kepercayaan yang berbeda-beda juga. Tiap daerah memiliki cerita rakyatnya sendiri dimana tiap cerita tersebut memiliki pesan moral yang sesuai  dengan adat dan kepercayaan budaya masing-masing. Cerita rakyat dari Tanah Air yang kisahnya dikenal diberbagai wilayah. Berikut ini narasirakyat.org merangkum berapa contoh cerita rakyat lampung yang bisa sahabat baca.  

 

Beberapa Contoh Cerita Rakyat Lampung Yang Memiliki Pesan Moral

Cerita Rakyat Lampung  : Ratu Ali

Dahulu kala, di pantai sekitar Teluk Lampung banyak ditumbuhi pakis dan tanaman paku. Oleh karena itu, tempat tersebut dinamai dengan Pantai Paku. Banyak orang dari Kalumbayan datang untuk membuka sawah dan pertanian di sekitar pantai. Mereka menanam damar, cengkih, kopi, dan sebagainya. Selain itu, mereka juga mengumpulkan hasil laut seperti ikan lokan, kerang bahekang, dan rumput laut.

Di antara penduduk itu tersebutlah orang yang bernama Ali. Ali orang yang alim dan pandai. Ia pernah berhaji pula. Orang sering memanggilnya dengan nama Ratu Ali. Sehari-harinya Ratu Ali mengajar mengaji. Muridnya tersebar di Cukur Balak, Way Ratai, dan Teluk Belitung. Sebelum tinggal di Pantai Paku, ia pernah tinggal di Jewalang Teluk Belitung dan mengajar mengaji di sana.

Suatu malam Ratu Ali bermimpi, ada orang tua mendekatinya. Ia diperintahkan untuk bertapa di Pulau Teluk Paku selama 40 hari dan berangkat setelah sembahyang Jumat dengan menyeberangi pantai. Jika lulus ujian, Allah akan mengaruniainya kekuatan yang bisa menyelamatkan keluarga, kampung, dan siapa saja yang butuh pertolongan.

Kemudian bertapalah Ratu Ali di atas sebuah batu besar dengan dikelilingi dinding batu yang dipenuhi kelelawar bergantungan. Ketika sampai hari ketiga puluh delapan, gangguan mulai datang. Raja Setan mendekati Ratu Ali dengan membawa kapal. Ratu Ali mengucapkan kata-kata bahwa kapal itu akan diubahnya menjadi batu. Seketika kapal itu pun berubah menjadi batu. Sekarang batu itu disebut Batu Kapal. Konon, Raja Setan itu mendemdam. Setiap ada perahu yang lewat akan diganggunya. Namun jika awak perahu mengatakan bahwa dirinya Ratu Ali, maka Raja Setan tak akan mengganggu lagi.

Suatu hari, angin bertiup kencang, ombak laut menderu-deru. Tiba-tiba datang orang yang sangat tua menyuruh Ratu Ali membuka mulutnya. Orang tua itu memasukkan tiga buah benda semacam biji kopi ke dalam mulut Ratu Ali. Lalu orang tua itu menghilang.

Sementara angin masih menderu, banyak pohon tumbang, penduduk Pantai Paku ketakutan. Mereka memohon perlindungan kepada Allah. Semua orang melarikan diri. Hanya keluarga Ratu Ali yang masih tinggal dan ingat bahwa Ratu Ali sedang bertapa.

Menjelang tengah hari, masyarakat dikejutkan oleh benda jatuh dari pantai. Mereka baru ingat, Ratu Ali bertapa di pulau itu. Mereka segera berdoa agar Ratu Ali selamat. Selanjutnya, beberapa orang melihat keanehan lain. Benda itu terbang dari ujung Ojokhan sampai ujung Umbakhan. Berkali-kali benda itu berputar-putar. Ternyata benda itu adalah Ratu Ali yang telah memperoleh ilmu tinggi. Ratu Ali sendiri tidak sadar kalau dirinya bisa terbang. Masyarakat juga dikejutkan dengan adanya sumur dadakan di pantai. Peristiwa itu menjadi buah bibir penduduk.

Air hujan yang deras membuat tubuh Ratu Ali pulih kembali. Beberapa waktu kemudian, Ratu Ali kembali bermimpi didatangi orang tua. Orang tua itu mengatakan bahwa tempat Ratu Ali tidur akan dijadikan sebagai tempat orang sembahyang. Sedangkan, air wudunya mengambil di tempat Ratu Ali jatuh pada siang harinya. Tempat mengambil air wudu itu kemudian diberi nama Sumur Ratu Ali. Orang tua itu menambahlan bahwa ilmu Ratu Ali sudah tinggi, kekuatannya seperti 10 ekor gajah, dan ucapannya sakti. Hal itu sudah terbukti dengan berubahnya kapal Raja Setan menjadi batu.

Setelah pulang, Ratu Ali semakin berwibawa dan disegani. Ia menjadi pelindung masyarakat sekitarnya. Suatu ketika, datang dua ekor naga mengganggu penduduk. Maka Ratu Ali berkata bahwa naga itu akan menjadi batu. Seketika naga itu berubah menjadi batu. Sekarang, batu itu dinamai Batu Naga. Kini pulau yang digunakan Ratu Ali untuk bertapa disebut Pulau Tampat. Pulau itu terletak di antara Tanjung Ojokhan di sebelah timur dan Tanjung Umbakh di sebelah barat. Seadangkan Batu Naga sebduru terletak di sekitar Tanjung Ojokhan. Jika kita berlayar dari Kota Agung ke Pantai Paku, kita akan menjumpai Batu Kapal yang memisahkan Pulau Tampat dengan ujung Umbakh.

Hingga akhir hayatnya Ratu Ali menjadi pelindung masyarakat. Ia akan menolong siapa saja yang membutuhkannya. Hingga kini namanya tetap dikenang masyarakat sebagai seorang yang ringan tangan dalam menolong sesama.

 

Cerita Rakyat Lampung : Aminah yang Cerdik

Aminah sedang mencuci di sungai. Kali ini ia sendirian, tidak bersama teman-temannya. Aminah adalah gadis yang cantik dan pintar. La tinggal bersama ayah dan ibunya di sebuah desa di dekat Sungai Tulang Bawang, Lampung. Saat mencuci, Aminah tak sadar bahwa ada sepasang mata dalam sungai yang sedang mengawasinya. Ya, itu adalah mata Buaya Perompak, buaya Penunggu Sungai Tulang Bawang. Keganasan Buaya Perompak sudah terkenal. Banyak manusia yang hilang begitu saja saat mencuci di sungai itu. Namun Aminah tidak takut, ia tetap mencuci sambil bersenandung kecil.

Tiba-tiba, byuurrrrrrr… muncullah Buaya Perompak dari dalam sungai. Aminah sangat terkejut. Ia tak mengira bahwa Buaya Perompak berwajah begitu mengerikan. Badannya sungguh besar, giginya runcing dan tajam. Aminah pingsan seketika.

“Di mana aku? Ibu… Ibu..” panggil Aminah lemah. Aminah berusaha bangkit dari tidurnya.

Tiba-tiba terdengar suara “Ah… rupanya kau sudah sadar.” Aminah menoleh. Ternyata Buaya Perompak yang mengajaknya bicara. Meski ketakutan, Aminah berusaha tenang. Aminah yakin, jika ia tak melawan, buaya itu pasti tak akan membunuhnya. “Kau sekarang berada di gua kediamanku. Gua ini Ietaknya jauh di dasar sungai. Tak ada seorang pun yang bisa menolongmu,” kata Buaya Perompak.

“Apa yang kau inginkan dariku? Mengapa kau tak membunuh dan memakanku saja?” tanya Aminah.

“Ha… ha… ha… kau terlalu cantik untuk kumakan. Aku ingin menjadikanmu istri. Kau bersedia, bukan? Lihat perhiasan emas berlian di ujung sana. Aku akan memberikan semuanya padamu jika kau bersedia,” jawab Buaya Perompak.

Aminah heran, dari mana asal semua perhiasan itu? Ia lalu berpikir keras. “Jika aku menolak, pasti aku akan dibunuhnya. Lebih baik kuterima saja Iamarannya, sambil mencari akal bagaimana keluar dari gua ini.” Aminah lalu menyetujui permintaan buaya itu. Mereka pun menikah dan menjadi suami-istri. Buaya itu benar-benar memanjakan Aminah. Ia memberi banyak perhiasan yang indah-indah pada istrinya. Ia juga menyediakan aneka makanan yang lezat.

Hari berganti hari, bulan berganti bulan. Aminah merasa bosan. Ia merasa sudah saatnya keluar dari gua itu dan kembali pada orang tuanya. Pelan- pelan, Aminah berusaha mengorek keterangan dari Buaya Perompak.

“Dari mana kau mendapatkan semua perhiasan ini, Suamiku?” tanya Aminah suatu hari. Sambil bertanya, ia berpura-pura mengagumi sebuah kalung mutiara yang cantik.

“Itu adalah hasil dari merampok orang-orang kaya. Sebenarnya aku adalah seekor buaya jadi-jadian. Namaku Somad, aku dulu adalah seorang perompak yang termahsyur.

Namun kemudian aku dikutuk karena perbuatan jahatku. Jadilah wujudku seperti sekarang,” jawab Buaya Perompak panjang lebar. Aminah mengangguk-angguk tanda mengerti.

“Pantas saja kau bicara seperti manusia. Lalu dari mana kau mendapatkan semua makanan ini? Tiap hari kau memberiku makanan yang lezat.” tanya Aminah lagi.

“Itu mudah saja. Setiap bulan purnama, aku akan berubah wujud kembali menjadi manusia. Pada saat itu aku akan menjual sedikit perhiasan-perhiasan untuk ditukarkan dengan bahan makanan,” jelasnya.

“Oh begitu.” jawab Aminah sambil mengangguk-angguk.

“Apa orang-orang tidak curiga jika secara tiba-tiba kau keluar dari sungai ini?” tanya Aminah memancing. Buaya Perompak tak sadar kalau Aminah sedang berusaha mengorek keterangan darinya. “Ha… ha… tentu saja aku tak sebodoh itu. Aku telah membangun terowongan di balik gua ini. Terowongan itu langsung terhubung dengan desa yang kutuju,” kata buaya itu.

Aminah mengingat semua perkataan suaminya dengan baik. Sekarang ia tahu cara untuk melarikan diri. Ia akan menunggu sampai buaya itu lengah, lalu ia akan Ian melalui terowongan itu.

Saat yang ditunggu pun tiba. Suatu siang, Buaya Perompak tidur dengan pulasnya. Ia bahkan lupa menutup gua, sehingga Aminah dapat keluar dengan mudah. Aminah berjingkat- jingkat keluar menuju ke balik gua itu. “Ah, ternyata ini terowongannya,” kata Aminah dalam hati. Ia lalu menoleh ke belakang, memastikan bahwa Buaya Perompak tidak mengikutinya.

Setelah memastikan semuanya aman, Aminah lalu masuk ke terowongan itu dan berjalan dengan cepat. Sesekali ia tersandung batu, karena keadaaan dalam terowongan itu gelap gulita. Kemudian, Aminah melihat seberkas cahaya. “Syukurlah, sebentar lagi aku akan sampai,” kata Aminah sambil mempercepat langkahnya. Aminah sampai juga di ujung terowongan itu. Buaya Perompak benar, ternyata ujung terowongan ini adalah sebuah desa di tepi Sungai Tulang Bawang.

 Aminah amat senang, akhirnya ia bebas. Ia menyusuri desa itu dan bertanya jalan tercepat menuju desa tempat tinggalnya. Setelah mendapatkan petunjuk dari beberapa orang, Aminah pun bergegas pulang ke desanya, ke rumah orangtuanya.

Ayah dan ibunya menyambutnya dengan gembira. Mereka tak menyangka kalau Aminah masih hidup. “Kami kira kau sudah mati dimakan Buaya Perompak, Nak,” kata ibunya sambil memeluk Aminah erat-erat.

Aminah tersenyum dan menceritakan pengalamannya. Berkat kecerdikannya, Aminah lolos dari sekapan Buaya Perompak. Berkat kecerdikannya pula, semua penduduk desa mengetahui rahasia Buaya Perompak. Sejak saat itu, penduduk desa menjadi lebih berhati-hati bila mencuci di Sungai Tulang Bawang.

 

Pesan moral dari Cerita Rakyat Lampung : Aminah yang Cerdik untukmu adalah jangan mudah panik saat menghadapi masalah. Gunakan akal dan pikiranmu, pasti ada jalan keluarnya.

 

Daftar Cerita Rakyat Lampung Lainnya Yang Bisa Anda Baca:

 

Cerita Rakyat Lampung – Buaya Perampok Di Sungai Tulang Bawang

Cerita Rakyat Lampung – Dongen Telu Pak

Cerita Rakyat Lampung – Kisah Si Bugu Yang Pandir

Cerita Rakyat Lampung – Sidang Belawan

Cerita Rakyat Lampung – Dongeng Putri Siluman

Cerita Rakyat Lampung – Kisah Ratu Ali

Cerita Rakyat Lampung – Kisah Unang Batin

Cerita Rakyat Lampung – Kisah Sang Kabelah

Cerita Rakyat Lampung – Dongeng Si Bungsu

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengenal Cerita Rakyat, Contoh Cerita Rakyat, dan Fungsi Cerita Rakyat di Indonesia

Cerita Rakyat Yaiku

Puncak Perjuangan Pergerakan Kemerdekaan Indonesia Adalah