Legenda Danau Lipan, Cerita Rakyat Kalimantan Timur


Setiap sudut wilayah Indonesia memiliki cerita rakyatnya masing-masing yang terus berkembang dari mulut ke mulut. Dan hingga kini semua legenda tersebut dijadikan sebagai cerita yang memiliki pesan moral agar anak-anak penerus bangsa dapat belajar dari cerita tersebut.


Salah satu legenda yang tersebar ditengah-tengah masyarakat dan masih diceritakan hingga saat ini adalah legenda Danau Lipan yang berasal dari Kalimantan Timur. Danau ini berlokasi di Kecamatan Muara Kaman, sekitar 120 km di hulu Tenggarong, Kabupaten Kutai Kertanegara, Kalimantan Timur.


Uniknya Danau yang dimaksud dalam legenda ini bukanlah danau yang seperti kita tahu, dimana sebuah cekungan yang memiliki air didalamnya. Danau pada cerita rakyat Kalimantan Timur ini adalah sebuah wilayah yang luas dipenuhi dengan tumbuhan semak.


Agar tidak penasaran, berikut cerita Legenda Danau Lipan.


Legenda Danau Lipan

Dahulu kala, di Kalimantan Timur terdapat kerajaan di daerah Kutai yang dipimpin oleh seorang putri bernama Aji Bedarah Putih. Nama tersebut diambil karena ia senang menyirih lalu menelan airnya.


Sang Putri terkenal dengan wajahnya yang cantik jelita. Bahkan kecantikannya terdengar sampai ke negeri China.


Suatu hari seorang raja dari negeri China datang untuk melamar sang putri. Kedatangan raja tersebut disambut baik seperti penyambutan tamu kerajaan lainnya.


Sebagai bentuk penghormatan, sang putri pun menjamu raja dengan berbagai makanan. Sambil menyantap makanan dengan raja, sang putri diam-diam memperhatikan cara makan tamu kehormatan tersebut.


Raja makan dengan lahap dan rakus. Hal tersebut membuat sang putri merasa jijik dan tersinggung. Dia merasa cara makan raja telah memperlihatkan ketidakhormatannya dengan sang putri.


Setelah selesai makan bersama, sang putri pun langsung mengatakan isi hatinya yaitu menolak lamaran raja. Mendengar hal itu raja pun bertanya apa sebab dirinya ditolak oleh Putri Aji.


Dengan tegas sang putri mengatakan bahwa ia tidak suka dengan cara makan raja yang seperti binatang. Setelah mengatakan hal tersebut diablangsung pergi berlalu meninggalkan raja yang marah.


Raja dari China tersebut sangat marah, tidak hanya karena lamarannya ditolak, tetapi karena ia juga merasa dihina.  Dengan perasaan marah dan murka, dia pun kembali ke negaranya.


Berbulan-bulan telah berlalu, sang raja tiba-tiba kembali ke tanah Kutai dan mendatangi kerajaan sang putri. Namun kedatangan kedua ini bukan untuk melamarnya kembali, tetapi dengan membawa pasukan untuk menyerang kerajaan tersebut.


Pasukan raja China yang sangat banyak itu langsung memasuki kerajaan Putri Aji Bedarah Putih dan membunuh siapapun yang mereka jumpai. Dengan banyaknya pertumpahan darah di kerajaan tersebut, Putri Aji Bedarah Putih mulai khawatir dengan keadaan istana.


Dia khawatir kerajaannya akan runtuh dan direbut oleh raja dari China. Sang putri juga merasa bahwa dirinya juga akan dibunuh oleh pasukan yang banyak itu.


Melihat semakin banyaknya pasukan istana yang mati, Putri Aji Bedarah Putih segera mencari sirih dan pinang lalu mengunyahnya. Sembari mengunyah sirih dan pinang ia berkata dalam hati, “Apabila benar kesaktian dari nenek moyangku itu nyata, maka ubahlah sirihku menjadi lipan-lipan ganas yang akan menyerang raja dari China dan pasukannya itu.”


Kemudian sang putri berdiri dan langsung menyemburkan isi mulutnya ke bawah menara.


Tiba-tiba sirih-sirih tadi berubah menjadi lipan ganas yang menyerang pasukan dari China. Mereka dibunuh oleh lipan-lipan yang menggigir ganas sampai akhirnya mereka mundur.


Lipan-lipan yang ganas itu tetap mengejar mereka dan menghabisinya sampai tak tersisa. Bahkan kapal-kapal mereka pun sampai tenggelam ke dasar laut akibat ulah lipan ganas.


Tempat tenggelamnya kapal tersebut berubah menjadi perairan yang dangkal dan saat ini dikenal dengan Danau Lipan. Begitulah kisah Cerita Rakyat Kalimantan Timur, Legenda Danau Lipan.


Pesan Moral

Dari cerita rakyat tersebut, terdapat pesan moral yang wajib diterapkan dikehidupan sehari-hari dan ditanamkan didalam diri anak-anak.


Miliki etika saat bertamu dan menjamu tamu. Karena tidak semua orang yang baru kita kenal dapat menerima sifat dan sikap yang ada pada diri kita. Perhatikan tutur kata, jangan sampai ucapanmu menyakiti hati orang lain.

Posting Komentar

0 Komentar